Senin, 01 Desember 2008
Ada yang luar biasa buat kami sekeluarga akhir bulan lalu. Naw sudah sudah mulai berani berjalan sendiri, tidak lagi menggunakan mainan dan kursi kecil untuk berjalan. Wah Naw sangat senang sekali apalagi bila Na dan Nu ikut bertepuk dan teriak menyemangati Naw...kadang-kadang Naw berlari saking senangnya.
Naw juga sekarang lebih cerewet dan suka mengikuti gerakan dan pembicaraan kami, tapi ya itu...suara yang keluar dari mulutnya adalah bahasa bayi tetapi intonasinya sudah sama dengan intonasi kalimat yang diucapkan orang tua dan kakak-kakaknya.
Mudah-mudahan Naw bisa terus berusaha untuk belajar....juga Na dan Nu...semoga mereka menjadi penerang bagi kami orang tuanya......dimanapun kami berada....amiien....
Selasa, 04 November 2008
Dongeng Na
Kali itu, Na bercerita tentang Kecoa yang naik perahu besar. Ibu Kecoa sudah melarang jangan ikut tetapi anaknya itu terus memaksa dan berlari ke arah kapal. Akhirnya anak Kecoa itupun pergi tanpa persetujuan ibunya. Didalam kapal, Kecoa itu bertemu dengan seekor kucing yang terus mengejar-ngejar sampai Kecoa itu ketakutan dan menangis sambil memanggil-manggil ibunya. Untungnya Kecoa itu bisa bersembunyi disela-sela kayu. Ketika kembali, kecoa itupun bertemu dengan ibunya dan meminta maaf karena pergi tanpa izin.
Wah saya dan isteri langsung bilang bagus tuh ceritanya. Hanya sayangnya, Nu selalu minta dongeng yang sama dan Na akhirnya bosan dan mogok bercerita....kalau sudah begitu biasanya saya yang bercerita dan meyakinkan Nu bahwa cerita yang lain juga bagus....
Ternyata sangat bermanfaat mendongeng kepada anak terutama sebelum mereka tidur......saya selalu berpesan kepada anak saya terutama ketika mereka akan tertidur mengenai hikmah dari dongeng yang saya tuturkan atau bacakan. Mungkin itu yang ada dibenak Na dan bisa dengan lancar bercerita dengan gayanya kepada Nu.......
Rabu, 15 Oktober 2008
Na, Nu, dan Naw juga ikut shalat id di mesjid dekat rumah nenek mereka. Nah setelah shalat merekapun cepat-cepat mengganti baju kokonya dengan kaos yang seragam....inilah mereka....
Senin, 06 Oktober 2008
Tolong Makanlah Kami
“Ayo nak, adek harus makan biar sehat ya…” bujuk Ibu pada Raimi dengan lembut. “Nggak mau….ade mau main” balas Raimi dengan cepat berlari menuju kamar. Ibu tidak menyerah, ia terus mengikuti kemanapun Raimi berlari, “Praank..” bunyi piring jatuh di ruang keluarga. Ternyata Raimi menolak makanan yang disodorkan Ibu ke mulutnya. Bukan hanya menolak, Raimi juga menjatuhkan piring yang dipegang Ibu. “Adek…!” suara Ibu cukup keras karena kaget. “Kenapa adek jatuhkan piringnya? Tuuh kan makanan jadi berserakan….kasihan kan makanannya jadi terbuang” Raimi tidak menjawab, dia hanya melihat Ibu sebentar kemudian melanjutkan permainannya.
Setelah malam tiba, Raimi siap-siap tidur ditempat tidurnya. Tempat tidur yang sangat nyaman berwarna biru muda dipadu dengan biru tua sangat cocok untuk anak 4 tahun itu. Setelah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh sang Bunda, Raimi pun tertidur pulas.
“Ami nggak mau makaan….” Suara Raimi sambil terus berlari. Namun Ibu terus mengejarnya sehingga Raimi pun tersudut di antara dua lembari buku yang cukup tinggi. “Hayo adek ketahuan……” Raimi hanya tersenyum mendengar gurauan Ibunya “Makan ya sayang….” Bujuk Ibu, tetapi Raimi tetap menggelengkan kepala dan “Praank….” Piringpun jatuh meninggalkan nasi dan goreng ikan mas berserakan dilantai. “Aduh adek kok ditumpahin lagi….” Sesal Ibu “Ibu mau ke dapur dulu… jangan mengacak-acak lagi nasi yang dilantai ya” pinta Ibu sambil menuju dapur untuk mengambil tempat sampah, sapu dan lap.
“Aduh sakiiiit…” terdengar suara-suara yang sangat riuh “Ya aku juga sakit….” Teriak suara yang lebih keras. Raimi yang masih berada di antara lemari buku mencari-cari suara itu. “Aduuuuh badanku sakit dan kotor….kita jadi terbuang deh….hu hu ihik ihik….” Suara tangisan yang semakin ramai diikuti tangisan yang lain. Raimi melihat ke bawah, dia terkaget-kaget ketika melihat nasi dan ikan di lantai menangis. “Kenapa kalian menangis?” Tanya Raimi polos. “Aku seharusnya masuk ke perut kamu tapi karena jatuh ke lantai ini jadi tidak bisa masuk deh….” Sesal nasi sambil memandang tajam mata Raimi. “Aku juga, harusnya kan masuk ke perutmu juga menemani teman-teman nasi” Suara itu keluar dari mulut ikan. Raimi hanya terbengong-bengong sambil melihat dan mendengarkan ucapan nasi dan ikan.
“Coba kamu pikirkan, aku sebelum menjadi nasi telah melewati beberapa tempat dan waktu. Orang tua kami adalah butiran padi yang disemai petani di sawah. Kemudian munculah batang padi yang memakan waktu berbulan-bulan sehingga aku muncul. Akupun tidak langsung jadi tapi cukup lama sampai aku dipanen oleh petani. Mereka telah memperlakukan aku dengan sangat baik….hu hu hu…ihik ihik….” Suara nasi terhenti karena diiringi tangisan “Aku kemudian dibawa ke penggilingan maka akupun menjadi butiran beras. Setelah itu aku diangkut ke pasar untuk dibeli Ibumu. Sesampainya aku dirumahmu aku dicuci bersih dan ditanak sampai siap untuk dimakan…tapi apa yang telah kamu lakukan…huuuuhuuu..kamu malah membuang aku ke lantai sehingga perjuangan aku, petani, penggiling padi, pengangkut, penjual, dan ibumu menjadi sia-sia…..” Suara nasi itu diselingi tangisan.
“Aku juga….kamu telah membuang aku, padahal aku juga sudah diternakan, di bawa ke pasar dan dibeli serta dimasak ibumu tapi apa balasannya darimu… …aku khawatir akan dibuang juga” Suara ikan ikut melanjutnya keluhan nasi. Raimi sangat kaget, dia pun berteriak “Ibuuuu….Ibuuuu……” sambil berusaha berlari menyusul ibunya ke dapur.
“Raimi bangun nak sudah subuh…..Raimi kamu mimpi nak…ayo bangun” Ibu menggoyangkan badan Raimi yang sedang bergerak-gerak seolah sedang berlari. Mata Raimi terbuka, dilihatnya Ibu duduk disamping kanannya. Diapun kemudian memeluk Ibu dan meminta maaf karena sering menolak untuk makan bahkan membuang nasi dan lauk pauknya. Raimi berjanji bahwa dia akan menghormati petani, peternak, penggiling padi, pengangkut, penjual, Ibu dan yang paling utama akan memakan nasi dan lauk pauk yang disediakan untuknya. Ibunya hanya tersenyum sambil mengangguk “Ayo bangun ya sayang…” ucap Ibu sambil mengusap dahi Raimi yang berkeringat.
Jumat, 26 September 2008
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
Senin, 22 September 2008
Kamis, 18 September 2008
Puasa Anakku
Ketika bulan Ramadhan tiba, dihari pertama saya berusaha membangunkan putera saya. Tetapi putera saya itu tidak mau bangun bahkan meminta makan sahur sambil tidur, ya sudah gantian dengan Ibunya menyuapi. Lucunya putera saya itu makan dengan mata tertutup. Sekolahnya pada minggu pertama puasa meliburkan murid-muridnya. Pada hari pertama ini, saya sms isteri saya menanyakan sampai jam berapa putera saya puasa, ternyata kuatnya sampai jam 8 pagi karena tergoda dengan kue yang sedang dinikmati adiknya.
Begitulah pada minggu pertama bulan Ramadhan itu, anak saya berpuasa dengan waktu berbuka yang semakin lama dari hari pertama puasanya. Sekali waktu di hari libur, putera saya itu berkata akan puasa sampai Dhuhur dengan syarat dibuatkan kolak mutiara (sagu yang berwarna warni), jadinya saya kebagian mencari bahan dan isteri saya yang menyiapkan.
Alhamdulillah, puasanya masih lancar dan bersemangat walaupun saya bebaskan putera saya itu bukanya jam berapa. Tapi ya itu, tetap sahurnya harus disuapi dan sambil tidur pula.
Header
Bunga tersebut adalah bunga khas China yang tumbuh di dataran tinggi di sebuah taman di China (sorry nama bunga n tamannya lupa....). Untuk yang tahu nama bunga n tamannya mohon diberitahu lagi.... Ketika saya kunjungi kebetulan sekali sedang berkembang...wah kebayang kan rebutan mengambil gambarnya dengan pengunjung lain untuk mencari posisi yang tepat dan mendapatkan gambar yang diinginkan....nah menurut saya yang bagus dan jadi itu yang foto itu.......
Anak
Tetapi, dibalik itu semua, kita dituntut untuk mempersiapkan anak-anak kita sehingga mereka siap menghadapi kehidupan setelah kelak dewasa. Pengetahuan mengenai apa-apa yang dibutuhkan oleh anak-anak sesuai dengan umur mereka adalah menjadi keharusan untuk kita miliki.
Walau terkadang sulit mengajarkan hal-hal baik pada mereka, kita di waktu lain terpana dengan perkembangan mereka. Ada saatnya anak-anak menjadi penasehat terbaik untuk kita. Tidak hanya menjadi 'tabungan' kita menyimpan hal-hal yang kita anggap baik ke dalam pundi pundi otak dan fikiran mereka.
Kita seolah berlari mengejar dan menangkap apa yang sedang ada dalam fikiran mereka. Mencoba untuk meluruskan segala hal yang kita anggap membahayakan mereka. Tetapi pada suatu titik kita mungkin kelelahan dan membiarkan mereka dirasuki oleh hal-hal yang dapat mencelakai mereka. Recharge.....itulah yang harus kita lakukan. Kita harus mempelajari kembali apa yang kita lakukan saat seusia mereka. Walaupun kadang tidak secara langsung menjadikan proses yang sedang mereka jalani harus sama dengan proses ketika kita seusia mereka. Mempelajari kiat-kiat membesarkan anak adalah hal lain yang harus terus kita jaga. Ternyata benar....dunia yang kita hadapi dulu tidak seberat yang mereka hadapi saat ini......
Assalamualaikum......
Insya Allah blog ini akan menjadi ajang bagi saya untuk mengeluarkan uneg2 mengenai hal-hal terkait dengan dana pensiun, akuntansi, investasi, dunia anak, dan lain-lain.
Untuk yang ingin berdiskusi, dengan senang hati sebisa dan semampu saya