Senin, 06 Oktober 2008

Ini adalah dongeng pertama yang saya tampilkan. latar belakang dari munculnya dongeng ini adalah ketika siang harinya anak saya terutama yang kedua cukup sulit menyelesaikan makan mereka. Biasanya saya ceritakan pada mereka dongeng sebelum mereka tidur...nah ini dia salah satunya. Sebenarnya dongeng ini telah dikritisi oleh seorang Ibu, pakar anak-anak dan keluarga (terima kasih masukannya, untuk saat ini saya ingin mengetahui respon pembaca bila membaca dongeng draft awal saya). Untuk pembaca silahkan membaca dan mempraktekannya (untuk yang sudah mempunyai anak) dan mohon komen baik atas isi maupun cara penulisan saya.....terima kasih dan semoga bermanfaat.



Tolong Makanlah Kami

“Ayo nak, adek harus makan biar sehat ya…” bujuk Ibu pada Raimi dengan lembut. “Nggak mau….ade mau main” balas Raimi dengan cepat berlari menuju kamar. Ibu tidak menyerah, ia terus mengikuti kemanapun Raimi berlari, “Praank..” bunyi piring jatuh di ruang keluarga. Ternyata Raimi menolak makanan yang disodorkan Ibu ke mulutnya. Bukan hanya menolak, Raimi juga menjatuhkan piring yang dipegang Ibu. “Adek…!” suara Ibu cukup keras karena kaget. “Kenapa adek jatuhkan piringnya? Tuuh kan makanan jadi berserakan….kasihan kan makanannya jadi terbuang” Raimi tidak menjawab, dia hanya melihat Ibu sebentar kemudian melanjutkan permainannya.

Setelah malam tiba, Raimi siap-siap tidur ditempat tidurnya. Tempat tidur yang sangat nyaman berwarna biru muda dipadu dengan biru tua sangat cocok untuk anak 4 tahun itu. Setelah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh sang Bunda, Raimi pun tertidur pulas.

“Ami nggak mau makaan….” Suara Raimi sambil terus berlari. Namun Ibu terus mengejarnya sehingga Raimi pun tersudut di antara dua lembari buku yang cukup tinggi. “Hayo adek ketahuan……” Raimi hanya tersenyum mendengar gurauan Ibunya “Makan ya sayang….” Bujuk Ibu, tetapi Raimi tetap menggelengkan kepala dan “Praank….” Piringpun jatuh meninggalkan nasi dan goreng ikan mas berserakan dilantai. “Aduh adek kok ditumpahin lagi….” Sesal Ibu “Ibu mau ke dapur dulu… jangan mengacak-acak lagi nasi yang dilantai ya” pinta Ibu sambil menuju dapur untuk mengambil tempat sampah, sapu dan lap.

“Aduh sakiiiit…” terdengar suara-suara yang sangat riuh “Ya aku juga sakit….” Teriak suara yang lebih keras. Raimi yang masih berada di antara lemari buku mencari-cari suara itu. “Aduuuuh badanku sakit dan kotor….kita jadi terbuang deh….hu hu ihik ihik….” Suara tangisan yang semakin ramai diikuti tangisan yang lain. Raimi melihat ke bawah, dia terkaget-kaget ketika melihat nasi dan ikan di lantai menangis. “Kenapa kalian menangis?” Tanya Raimi polos. “Aku seharusnya masuk ke perut kamu tapi karena jatuh ke lantai ini jadi tidak bisa masuk deh….” Sesal nasi sambil memandang tajam mata Raimi. “Aku juga, harusnya kan masuk ke perutmu juga menemani teman-teman nasi” Suara itu keluar dari mulut ikan. Raimi hanya terbengong-bengong sambil melihat dan mendengarkan ucapan nasi dan ikan.

“Coba kamu pikirkan, aku sebelum menjadi nasi telah melewati beberapa tempat dan waktu. Orang tua kami adalah butiran padi yang disemai petani di sawah. Kemudian munculah batang padi yang memakan waktu berbulan-bulan sehingga aku muncul. Akupun tidak langsung jadi tapi cukup lama sampai aku dipanen oleh petani. Mereka telah memperlakukan aku dengan sangat baik….hu hu hu…ihik ihik….” Suara nasi terhenti karena diiringi tangisan “Aku kemudian dibawa ke penggilingan maka akupun menjadi butiran beras. Setelah itu aku diangkut ke pasar untuk dibeli Ibumu. Sesampainya aku dirumahmu aku dicuci bersih dan ditanak sampai siap untuk dimakan…tapi apa yang telah kamu lakukan…huuuuhuuu..kamu malah membuang aku ke lantai sehingga perjuangan aku, petani, penggiling padi, pengangkut, penjual, dan ibumu menjadi sia-sia…..” Suara nasi itu diselingi tangisan.

“Aku juga….kamu telah membuang aku, padahal aku juga sudah diternakan, di bawa ke pasar dan dibeli serta dimasak ibumu tapi apa balasannya darimu… …aku khawatir akan dibuang juga” Suara ikan ikut melanjutnya keluhan nasi. Raimi sangat kaget, dia pun berteriak “Ibuuuu….Ibuuuu……” sambil berusaha berlari menyusul ibunya ke dapur.

“Raimi bangun nak sudah subuh…..Raimi kamu mimpi nak…ayo bangun” Ibu menggoyangkan badan Raimi yang sedang bergerak-gerak seolah sedang berlari. Mata Raimi terbuka, dilihatnya Ibu duduk disamping kanannya. Diapun kemudian memeluk Ibu dan meminta maaf karena sering menolak untuk makan bahkan membuang nasi dan lauk pauknya. Raimi berjanji bahwa dia akan menghormati petani, peternak, penggiling padi, pengangkut, penjual, Ibu dan yang paling utama akan memakan nasi dan lauk pauk yang disediakan untuknya. Ibunya hanya tersenyum sambil mengangguk “Ayo bangun ya sayang…” ucap Ibu sambil mengusap dahi Raimi yang berkeringat.

Tidak ada komentar: